Wednesday, June 30, 2010

"Preman Asmara" Anak Kyai

Oleh Abdul Mutaqin
Saya tertegun tak dapat berkata-kata lagi. Membisu terkunci rapat. Menatapnya miris. Saya menyesal menanyakan tentang hal rumah tangganya. Prasangka baik saya ternyata kali ini sia-sia. Bahkan sama sekali menjadi tidak mengenakan. Duhai sahabat, maafkan saya jika saya membuka luka di hatimu. Sungguh saya tidak tahu atas apa yang kau alami. Dan bukan pula maksud saya mengorek luka itu dan membuatmu perih kembali. Bukan.
Saya menghiba pada Pencipta. Ya Rabb, apa memang pantas Engkau mengujinya dengan hal itu? Dia sahabatku. Aku mengenalnya karena kebaikannya. Juga karena kesalehannya. Juga kefasihannya. Apalagi saat mendengar tausiyah dan khutbahnya. Saya kira, setiap wanita salehah dapat saja akan jatuh hati padanya. Dia pantas jadi imam bukan saja di mimbar jama’ah Jum’at. Tetapi juga imam dalam biduk rumah tangga idaman.
”Gimana, sudah ada tanda-tanda kehamilan isteri?”
“Belum”.

Setelah Masuk Islam, Saya Merasa Lebih Terbebaskan sebagai Perempuan

Bagi Sarah Thompson, pindah agama bukanlah persoalan yang mudah karena banyak hal-hal baru yang harus ia pelajari Bagi kebanyakan perempuan non-Muslim yang memutuskan menjadi seorang muslim, persoalan yang paling rumit adalah bagaimana memberitahukan keislaman mereka pada keluarga dan orang-orang tercinta.
Tapi Sarah bersyukur, ia tidak mengalami kerumitan itu saat mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi seorang muslimah pada keluarganya. "Saya merasa benar-benar mendapat berkah karena reaksi keluarga saya lebih baik dibandingkan reaksi keluarga lainnya dari cerita yang pernah saya dengar," ungkapnya.
Sarah Thompson yang lahir dan dibesarkan di Noblesville, Indiana tumbuh di tengah keluarga yang mengklaim sebagai penganut Kristen. Namun Sarah selalu merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Ia lalu mulai mempelajari dan memperdalam agama Islam.
"Saya seperti menemukan rumah bagi rohani saya," ujarnya tentang Islam.

Larry King, Corong Yahudi itu Pensiun

Pembawa acara kawakan Larry King, Selasa, mengumumkan bahwa dia akan mengakhiri acara bincang-bincang malamnya "Larry King Live" di CNN pada musim gugur mendatang, setelah berkarir selama 25 tahun di televisi.
King (76) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia masih akan membawakan acara khusus bagi CNN dalam acara-acara utama, namun ingin meluangkan waktu lebih banyak dengan istri dan anak-anaknya yang masih kecil.
King, yang dikenal sebagai pembawa acara dengan gaya non-konfrontasi dan kegemarannya mengenakan bretel berwarna, telah mewancarai beragam tamu, mulai dari bintang Hollywood hingga politisi dan atlit.

Roket Al-Qassam Jatuh di Negev, Warga Israel Panik

Sebuah roket Al-Qassam jatuh di dekat kawasan pemukiman Israel di Sdot Negev, Rabu (30/6) sekitar pukul 04.00 dini hari. Roket tersebut menyebabkan sirene tanda bahaya berbunyi dan membuat panik warga sekitar.
Kepala Satuan Situasi Darurat Israel, Avi Aptelboim mengatakan roket itu jatuh di sebuah pabrik pengemasan dan hanya menyebabkan kerusakan, tidak ada korban jiwa.
"Kami terbangun dan menyaksikan realitas yang sama, yang kami jalani selama bertahun-tahun. Tapi kehidupan harus terus berlanjut. Ini cuma salah satu roket, dan saya kira akan ada roket-roket lainnya," kata Danny Yagal, salah seorang pekerja di pabrik pengemasan.
Ia menambahkan, pabrik ditutup sementara sampai kerusakan diperbaiki. Sementara warga yang tinggal di pemukiman dekat pabrik langsung berkumpul dan menggelar doa bersama di sebuah sinagog karena tidak ada yang menjadi korban roket tersebut.

Anggota Serikat Pekerja Yordan Ditolak oleh Mesir Menuju Gaza

Otoritas Mesir menolak anggota serikat pekerja profesional dari Yordania menyeberangi perbatasan Gaza melalui Terminal Rafah.  Anggota serikat pekerja Yordania itu terpaksa harus tinggal empat hari di terminal namun akhirnya terpaksa harus kembali.
Anggota kemudian memutuskan untuk kembali ke Amman setelah semua upaya untuk meyakinkan pihak yang berwenang Mesir untuk memungkinkan mereka melalui perbatasan gagal.
Ahmad al-Armouty, kepala Asosiasi pekerja Profesional Yordania, mengatakan kepada Prance Press bahwa perundingan diadakan dengan kepemimpinan Mesir melalui Kedutaan Besar Yordania di Kairo, namun Mesir berkeras tidak mengizinkan mereka ke Gaza tanpa memberikan alasan apapun.
Al-Armouty menambahkan bahwa delegasi lainnya dari Arab dan negara Internasional diizinkan melewati perbatasan.

Relawan Komat, Wahdah Islamiyah, KNRP Tembus Gaza

Komite Umat (Komat) Palestina, yang merupakan organisasi kemanusian Peduli Palestina yang berpusat di Makassar ini, telah memberangkatkan dua Relawan ke Gaza Palestina, Yakni Wakil Sekjen Komat Ustadz Ikhwan Abd.Jalil, Lc dan Dr.Paisal Abdillah, bertolak dari Jakarta ke Mesir Ahad dini hari 27 Juni 2010, dan sudah tiba di Gaza Palestina Selasa Sore 29 Juni 2010 Sekitar pukul 5 Sore Waktu Makassar/pukul 12 Siang Waktu Palestina, setelah sebelumnya melewati kota Al Arish Provinsi Sinai Utara.
Kedua Relawan Komat ini tergabung dalam rombongan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina KNRP dipimpin oleh DR. Muqoddam Khalil. Rombongan KNRP yang terdiri dari konsorsium beberapa LSM antara lain BSMI, PKPU, Wahdah Islamiyah, Komat Palestina, Rumah Zakat Indonesia. Total yang ikut dalam rombongan KNRP sebanyak lima orang, salah satunya adalah Mahasiswa Mesir.

Penghargaan "World Family" 2010 Diberikan Pada Perdana Menteri Turki

World Family Organization memberikan penghargaan "2010 World Family Award" pada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Presiden World Family Organization Dr Deisi Kusztra pada perwakilan tetap Turki di PBB, Ertugrul Apakan di gedung PBB, Selasa (29/6).

Penghargaan "World Family" 2010 itu diberikan pada Erdogan karena Perdana Menteri Turki itu dinilai sangat penduli dengan persoalan-persoalan yang menyangkut keluarga dan kepemimpinan.

Monday, June 28, 2010

Di Sana Sehat, Di Sini Maksiat

Oleh Nurudin

Bola lagi, bola lagi! Lagi-lagi bola! Sudah setengah bulan lebih, hampir semua orang membicarakan bola. Siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Pagi hari, saat bersiap-siap untuk berangkat kerja aku mendengar tetanggaku membicarakan bola. Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, berbagai poster dan spanduk terpampang, masih terkait dengan bola. Siang hari, di tempat kerja sebagian besar rekan kerja juga membicarakan bola. Malam hari, usai sholat Isya berjamaah di mushola, aku juga mendengar ada jamaah yang membicarakan bola.

Hafal betul mereka dengan jadwal pertandingan beberapa hari ke depan, tim kesebelasan mana yang menang termasuk jumlah skor setiap pertandingan. Sempat terpikir saat itu, jika ditanya surat apa yang tadi dibaca oleh imam, apakah mereka bisa menjawabnya? Entahlah!

Serangan Zionis Israel di Silwan Lukai 10 Warga Palestina

Sumber-sumber lokal Palestina melaporkan kemarin (27/6) bahwa polisi Zionis israel telah melukai lebih dari 10 warga sipil Palestina yang berdemonstrasi menentang penghancuran rumah warga Palestina di lingkungan Silwan.

Serangan Zionis israel terhadap warga Palestina terjadi di lingkungan Silwan timur Yerusalem. Polisi dan militer penjaga Perbatasan Zionis datang ke wilayah tersebut dan mulai menyerang warga.

Erdogan: Hubungan dengan Israel akan Pulih Dengan 4 Syarat

Dalam wawancara dengan surat kabar Toronto Star, Perdana Menteri Erdogan, yang menghadiri KTT G-20 di kota Toronto Kanada, mengatakan, "hubungan dengan Israel akan tetap tegang sampai Israel memenuhi empat syarat:

1. Israel harus meminta maaf atas serangan pasukan komando mereka pada tanggal Mei 31 terhadap kapal Turki yang merupakan bagian dari armada kebebasan yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza,
2. Israel harus membayar kompensasi kepada para keluarga dari 10 orang yang tewas dalam serangan itu, sembilan orang Turki dan satu warga Turki-Amerika,

Netanyahu Akan Pecat Pimpinan Mossad, Meir Dagan

Kepala Badan Intelijen Israel, Mossad, Meir Dagan kemungkinan akan dicopot dari jabatannya dalam waktu tiga bulan ini karena Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menolak untuk melanjutkan masa jabatan Dagan.

Stasiun televisi Israel Channel Two yang merilis berita ini menyebutkan bahwa Dagan yang sudah delapan tahun mengabdikan diri sebagai pimpinan Mossad meminta Netanyahu agar memperpanjang masa jabatannya, tapi permintaan itu ditolak. Meski demikian, kantor Netanyahu membantah informasi bahwa Dagan datang kepada Netanyahu dan meminta jabatannya diperpanjang.

Pensiunan Jenderal Israel: Tel Aviv Lebih Baik Menyerah dengan Tuntutan Hamas

Putus asa karena berbelit-belitnya proses untuk membebaskan prajurit Israel yang ditahan Hamas, Gilad Shalit, membuat para purnawiran jenderal militer Israel mendesak perdana menteri Israel Benyamin Netanyahu untuk menuruti tuntutan Hamas.

Surat kabar Asharq Alawsat melaporkan, hasil jajak pendapat menyimpulkan sekitar 72 persen warga Israel menyetujui pemenuhan syarat bagi pembebasan Gilad Shalit dari Hamas. Meski tuntutan yang diminta Hamas sangat berat sekali pun.

Pada saat yang bersamaan, para pensiunan jenderal militer Israel juga berpendapat bahwa militer Israel yang telah mengirim Shalit untuk berperang, maka mereka juga harus menjamin keselamatannya. Dengan tindakan seperti ini, para personil militer Israel akan mengetahui bahwa para pimpinan dan pejabat tinggi di Tel Aviv sangat memperdulikan keselamatan mereka.

Hamas: Kami Akan Lepaskan Shalit Jika Israel Penuhi Tuntutan Palestina

Petinggi senior Hamas Khalid Misyal mengatakan bahwa gerakan Hamas tidak akan melepaskan tentara Israel Gilad Shalit yang ditawan, kecuali Tel Aviv setuju untuk memenuhi tuntutan-tuntutan Palestina.

Kepala biro politik Hamas pada hari Senin ini (28/6) memperbaharui seruan gerakan perlawanan untuk pembebasan tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.

Mengacu ke sebuah demonstrasi Ahad kemarin di Israel untuk mendukung Gilad Shalit, Misyal mengatakan bahwa demo tersebut menunjukkan bahwa orang-orang Israel sekarang tahu di mana letak masalahnya," sembari mengatakan pemerintah Israel bertanggung jawab atas kegagalan kesepakatan pertukaran tahanan yang telah mundur dari proposal kesepakatan sebelumnya.

Usai Piala Dunia, Delapan Kapal Bantuan Menuju Gaza

Pimpinan Hamas Mahmoud Zahar menyatakan, kapal-kapal yang membawa misi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza jumlahnya kemungkinan lebih banyak dari yang diperkirakan Israel. Ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa Mesir akan membantu Israel untuk menghentikan kapal-kapal tersebut.

Dalam wawancara dengan surat kabar Inggris The Independent, Zahar mengungkapkan bahwa sedikitnya delapan kapal akan berlayar menuju Gaza begitu ajang Piala Dunia selesai, dan jumlah kapal yang menuju Gaza kemungkinan terus bertambah pada selama bulan Ramadan yang diperkirakan akan jatuh mulai 11 Agustus mendatang.

Zahar juga mempertanyakan pihak-pihak yang menolak kehadiran kapal Iran dalam misi bantuan tersebut. "Kemana moralitas Anda. Jika Iran ingin memberikan bantuan makanan dan obat-obatan, pembenaran macam apa yang melarang bantuan itu, berikan dasar-dasar larangannya jika ada dalam alkitab," tukas Zahar.

Sunday, June 6, 2010

Catatan Pengajian di Bumi Sakura: “Experiencing Islamic Culture 2” (2)

Guratan penasaran dari wajah peserta karena diskusi yang terputus dilantai 2 masih tersisa saat semua peserta, baik putra maupun putrid, kembali ke ruang workshop di lantai dasar. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama karena pemandu acara mengumumkan bahwa program berikutnya adalah diskusi dan tanya-jawab dalam kelompok kecil.
Para peserta segera membentuk beberapa kelompok kecil dengan anggota gabungan. Gabungan anggota diskusi tersebut terdiri dari 3-5 orang bukan muslim dan 3-4 muslim/muslimah internasional, yang salah satunya harus muslim/muslimah Jepang. Pada kesempatan diskusi kali ini, kelompok kami terdiri dari 5 orang Jepang bukan muslim dan 4 muslimah (Jepang, Indonesia dan 2 Mesir).
Diskusi yang Hidup
Berbeda dengan diskusi pada workshop 1, pada diskusi kali kami bisa bertanya balik ke peserta hingga suasananya lebih interaktif dan akrab. Salah satu peserta dalam kelompok kami rupanya adalah seorang wartawati yang sudah sering melanglang ke negara-nagara Asia maupun Eropa. Kami merasa diuntungkan dengan keberadaannya karena dia ikut aktif menjawab pertanyaan dari peserta lain sebelum kami hingga menambah semarak acara diskusi di kelompok kami.
Sebagai contoh, saat ada pertanyaan tentang mengapa sebagaian wanita muslimah ada yang bercadar? Dengan ringannya wartawati itu langsung berujar bahwa sebenarnya itu merupakan kelebihan untuk pihak wanita. Dia menamakan kelebihan tersebut sebagai “power” wanita bercadar karena sang wanita bebas mengamati dan melihat apa saja disekelilingnya; sementara tidak demikian halnya dengan orang yang menatapnya. Mereka hanya akan melihat mata dan sosoknya saja. Kami mengiyakan jawabannya dan peserta lain tampak menemukan sebuah jawaban yang sangat logis dan masuk diakal. Apalagi saat wartawati tersebut mengungkapkan pengalamanya saat mencoba busana muslimah tersebut di salah satu negara yang dikunjunginya. Tentu saja kami juga menyelipkan beberapa gambaran dan alasan kenapa seseorang memilih untuk memakai cadar.
Pengalaman Menarik Sang Wartawati
Sebuah pengalaman menarik sempat terjadi pada sang wartawati saat dia berada di Filipina. Karena cuaca sangat panas, dia memutuskan untuk memakai penutup kepala seperti jilbab, lengkap dengan cadar karena hendak melindungi kepala dan wajahnya dari teriknya sinar matahari. Uniknya, dia memadukan perlengkapan hijab tersebut dengan celana pendek dan T-shirt pendek khas musim panas. Penampilannya tersebut menuai teguran dari warga muslim setempat karena mereka mengira bahwa sang wartawan adalah seorang muslimah dengan gaya baru.
Kami semua tertawa mendengar penuturannya. Lalu dengan sediplomatis mungkin kami berujar, “Kalau begitu sebenarnya anda sadar juga ya bahwa busana muslimah itu sebagai pelindung diri?” dia mengangguk sambil tersenyum. Kami juga menyarankannya untuk mencoba saja hal serupa di Jepang, pasti tidak akan ada yang protes, kata kami diselingi tawa para peserta.
“Atau anda juga boleh mencoba busana muslimah lagi saat diluar negeri tapi yang selengkapnya. Dan mohon jangan berbuat tidak baik saat mengenakannya karena itu akan merugikan nama kami” timpal kami sambil tersenyum. Sang wartawati tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kesan-kesan
Berikutnya, kami bertanya balik tentang apa yang ada di benak mereka sebelum datang ke Masjid. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa dalam benaknya, Masjid adalah sebuah bangunan yang dalamnya gelap dan tidak moderen atau (maaf) kumuh. Tapi pandangan tersebut langsung berubah saat mereka masuk dan mendapati fasilitas yang bagus dan moderen; sama seperti bangunan-bangunan lain yang biasa mereka lihat selama ini. Ada juga peserta yang berujar bahwa “Muslim juga ternyata sama dengan kami ya, orang biasa!” “Tentu saja!” jawab kami sambil tersenyum.
Tiba-tiba sang wartawati menyahut lagi “Tapi orang-orang ini muslim yang taat loh, karena tidak satupun dari mereka memakai make-up”. Kontan saja komentarnya disambut dengan pertanyaan dari peserta lain. “Memang wanita Islam tidak boleh berdandan ya?” Tanya seorang peserta antara terkejut dan ingin tahu. “Tentu saja boleh” ujar teman saya, “tapi kami berdandan hanya dirumah saat bersama suami atau keluarga dekat saja”.
Seorang wanita muda langsung menyahut “Wach kebalikan dengan kami. Kalau kami berdandan saat keluar rumah karena kami ingin memperlihatkan kecantikan kami kepada orang lain dan agar merekapun menikmati keindahan yang ada pada kita. Saat dirumah, baru kami apa adanya tanpa make-up”. Kami semua tersenyum maklum mendengar uraiannya.
“Apa kesan anda sebagai muslim yang tinggal di Jepang ini, kira-kira apa kelebihan dan kekurangan/tantangannya?” seorang peserta balik bertanya kepada kami. Jawaban-jawaban dari kami sungguh membuat mereka terkejut dan sekaligus senang. Beberapa jawaban tersebut adalah sebagai berikut.
  • Kelebihan tinggal di Jepang: udara yang bersih, fasilitas pemandian air panas untuk keluarga, taman-taman yang bagus dan luas, lingkungan tenang, orang Jepang yang rata-rata baik dan sopan, kebebasan individu yang dalam banyak hal menguntungkan kaum muslim untuk menjalankan ibadahnya sepanjang tidak mengganggu kepentingan umum.
  • Tantangan tinggal di Jepang: masalah makanan harus benar-benar selektif, bahasa
Forum diskusi diakhiri dengan laporan singkat dari tiap kelompok tentang hal-hal menarik yang berkembang dalam diskusi kelompok. Kemudian acara ditutup oleh panitia penylenggara dan para hadirin dipersilahkan untuk menikmati jamuan makan malam internasional di lantai 3.
Jamuan Makan Malam
Rata-rata peserta merasa terkejut dan sekaligus senang saat mendengar bahwa ada jamuan makan malam diakhir acara. Semua masakan andalan dari Banglades, Indonesia, Jepang, Malaysia dan Mesir meramaikan sajian di meja. Mereka sangat menikmati hidangan dari berbagai negara yang kami sajikan.
Acara makan malam yang dijadwalkan selesai jam 18.30 molor sampai hampir jam 19.30 malam karena beberapa tamu masih tetap tinggal dan menikmati jamuan dan bincang-bincang santai dengan muslimah internasional maupun sesama peserta. Mendekati jam 20.00, tamu satu-persatu mulai minta diri.
***
Malam itu terasa sangat spesial bagi sahabat Banglades saya yang duduk menikmati makan malam disudut ruangan. Wajahnya tampak cerah dan tak henti-hentinya bersyukur karena malam itu, 4 orang temannya ikut berpartisipasi dalam acara workshop. Padahal, biasanya dia selalu jadi “single fighter” di setiap acara dakwah internasional maupun beberapa acara lainnya. Saya yang duduk disebelahnya ikut merasakan pancaran kebahagiaan di matanya yang terus tersenyum.
Selain itu, malam itu juga banyak teman mualaf Jepang yang ikut berpartisipasi. Jumlahnya jauh melebihi muslimah Jepang yang berpartisipasi di workshop pertama, Alhamdulillah. Banyak diantara mereka yang tinggal sampai acara bersih-bersih dan beres-beres. Jalinan ukhuwah terasa begitu indah dan akrab karena kami bekerja sama diselingi canda dan senda gurau yang saling menyemangati.
Dalam hati saya berdoa, semoga acara dakwah seperti ini bisa terus berlanjut dan memperkuat jalinan ukhuwah kami semua; disamping memperluas gaung syiar Islam di bumi Sakura, InshaAllah,amin.
Teriring juga harapan dan doa agar workshop serupa kedepannya bisa lebih ditingkatkan lagi baik dari segi kualitas, manajemen dan variasi program maupun kuantitas peserta yang hadir, InshaAllah, amin.
Fukuoka, Awal Juni 2010.
Hanik Utami Morise

Rindu Masjid Kaum Muslimin di Athena

Athena adalah satu-satunya ibukota negara di Eropa dimana tidak ada satu pun bangunan masjid, meskipun di Atena terdapat sekitar 700.000 komunitas Muslim. Karena tidak ada masjid, masyarakat Muslim di kota itu memanfaatkan garasi, toko atau rumah-rumah mereka agar bisa sekedar salat berjamaah.

Saturday, June 5, 2010

Catatan Pengajian di Bumi Sakura: “Experiencing Islamic Culture 2” (1)

Bercermin pada kesuksesan penylenggaraan workshop berbahasa Jepang di awal Februari 2010; Masjid Fukuoka kembali menggelar acara serupa pada pertengahan Mei yang baru lalu. Target peserta relatif lebih luas dan beragam dibanding dengan peserta workshop terdahulu.
Peserta yang hadir berkisar antara 60-70 orang dan salah satu diantaranya adalah seorang mahasiswa berkebangsaan Inggris. Mereka terdiri dari para profesional dari salah satu universitas ternama di Kyushu (Kyudai), wartawan, mahasiswa, dan ibu rumah tangga.
Alasan mereka mengikuti acara workshop pun sungguh beragam. Ada yang datang karena sekedar ingin tahu dan mengenal islam, diajak teman, diundang kawan muslim maupun mereka yang datang karena tertarik dengan Islam.
Untuk alasan yang terakhir, acara workshop tersebut terasa bagai sebuah kesempatan dan jalan untuk menjawab segala pertanyaan terpendam tentang Islam yang telah lama mereka simpan.
Acara dimulai jam 15.40 waktu setempat. Pemandu acara kelihatan jauh lebih professional dan lihai karena ini adalah kesempatan keduanya. Disamping itu, kebetulan juga dia baru saja kembali dari belajar di Malaysia; dalam rangka program studi Keislaman untuk mualaf.

Insiden Freedom Flotilla di Mata AS, Semua Pihak Salah Kecuali Israel

Seperti biasanya, AS selalu terlambat mengeluarkan pernyataan saat sekutunya, Israel melakukan pembantaian pada warga sipil. Bahkan ketika yang menjadi korban adalah para aktivis kemanusiaan dari berbagai kewarganegaraan termasuk dari AS sendiri.
Bagi AS berlaku premis "Pasal 1, Israel tidak pernah salah. Pasal 2, jika Israel salah, kembali ke pasal 1." Setidaknya hal itu tersirat dalam pernyataan tertulis yang diserahkan duta besar AS untuk PBB terkait serangan pasukan komando Israel ke kapal pembawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza, Mavi Marmara, Senin (31/5) subuh kemarin.
Dalam pernyataan tertulisnya, jelas tersirat bahwa AS menyalahkan semua orang atas peristiwa berdarah itu, kecuali Israel. Meski faktanya, Israellah yang telah melakukan tindakan ilegal, menyerbu kapal dan membunuh penumpangnya yang masih berada di perairan internasional.

Kedubes Saudi Arabia Kedatangan Tamu Tak Diundang

Usai salat Jum'at Kedubes Saudi Arabia kedatangan tamu tak diundang, mereka adalah sejumlah LSM di Jakarta yang merasa prihatin terhadap sikap Pemerintah Kerajan Saudi Arabia terhadap Israel. Pengunjuk rasa menuntut agar Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia bertidak tegas terhadap Israel dengan senjata minyaknya, bahkan kalau perlu mengembargonya. Ikut dalam aksi tersebut Adi Massardi yang sempat membacakan puisinya yang berjudul Negeri Bedebah. Seorang Ibu keturunan Arab ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut.
M. Zakir SalmunM. Zakir Salmun

Israel Sedang Melakukan Genosida Pelan-Pelan di Gaza

Salah satu pendiri organisasi Free Gaza Movement yang mencetuskan ide pelayaran "Freedom Flotilla" ke Jalur Gaza, Greta Berlin mengatakan bahwa rezim Zionis Israel sedang melakukan genosida secara perlahan-lahan terhadap rakyat Palestina.
Genosida itu dilakukan dengan cara memberlakukan blokade total terhadap wilayah Jalur Gaza yang menyebabkan krisis kemanusiaan dan memiskinkan 1,5 juta warga Gaza. Berlin mengatakan, jika pemerintahan negara-negara di dunia "melakukan perlawanan" dan "melakukan tindakan yang benar" yaitu menghentikan genosida yang dilakukan rezim Zionis, maka komunitas sipil yang akan mengambil inisiatif untuk menghentikan genosida itu.