Wednesday, June 30, 2010

"Preman Asmara" Anak Kyai

Oleh Abdul Mutaqin
Saya tertegun tak dapat berkata-kata lagi. Membisu terkunci rapat. Menatapnya miris. Saya menyesal menanyakan tentang hal rumah tangganya. Prasangka baik saya ternyata kali ini sia-sia. Bahkan sama sekali menjadi tidak mengenakan. Duhai sahabat, maafkan saya jika saya membuka luka di hatimu. Sungguh saya tidak tahu atas apa yang kau alami. Dan bukan pula maksud saya mengorek luka itu dan membuatmu perih kembali. Bukan.
Saya menghiba pada Pencipta. Ya Rabb, apa memang pantas Engkau mengujinya dengan hal itu? Dia sahabatku. Aku mengenalnya karena kebaikannya. Juga karena kesalehannya. Juga kefasihannya. Apalagi saat mendengar tausiyah dan khutbahnya. Saya kira, setiap wanita salehah dapat saja akan jatuh hati padanya. Dia pantas jadi imam bukan saja di mimbar jama’ah Jum’at. Tetapi juga imam dalam biduk rumah tangga idaman.
”Gimana, sudah ada tanda-tanda kehamilan isteri?”
“Belum”.

Setelah Masuk Islam, Saya Merasa Lebih Terbebaskan sebagai Perempuan

Bagi Sarah Thompson, pindah agama bukanlah persoalan yang mudah karena banyak hal-hal baru yang harus ia pelajari Bagi kebanyakan perempuan non-Muslim yang memutuskan menjadi seorang muslim, persoalan yang paling rumit adalah bagaimana memberitahukan keislaman mereka pada keluarga dan orang-orang tercinta.
Tapi Sarah bersyukur, ia tidak mengalami kerumitan itu saat mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi seorang muslimah pada keluarganya. "Saya merasa benar-benar mendapat berkah karena reaksi keluarga saya lebih baik dibandingkan reaksi keluarga lainnya dari cerita yang pernah saya dengar," ungkapnya.
Sarah Thompson yang lahir dan dibesarkan di Noblesville, Indiana tumbuh di tengah keluarga yang mengklaim sebagai penganut Kristen. Namun Sarah selalu merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Ia lalu mulai mempelajari dan memperdalam agama Islam.
"Saya seperti menemukan rumah bagi rohani saya," ujarnya tentang Islam.

Larry King, Corong Yahudi itu Pensiun

Pembawa acara kawakan Larry King, Selasa, mengumumkan bahwa dia akan mengakhiri acara bincang-bincang malamnya "Larry King Live" di CNN pada musim gugur mendatang, setelah berkarir selama 25 tahun di televisi.
King (76) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia masih akan membawakan acara khusus bagi CNN dalam acara-acara utama, namun ingin meluangkan waktu lebih banyak dengan istri dan anak-anaknya yang masih kecil.
King, yang dikenal sebagai pembawa acara dengan gaya non-konfrontasi dan kegemarannya mengenakan bretel berwarna, telah mewancarai beragam tamu, mulai dari bintang Hollywood hingga politisi dan atlit.

Roket Al-Qassam Jatuh di Negev, Warga Israel Panik

Sebuah roket Al-Qassam jatuh di dekat kawasan pemukiman Israel di Sdot Negev, Rabu (30/6) sekitar pukul 04.00 dini hari. Roket tersebut menyebabkan sirene tanda bahaya berbunyi dan membuat panik warga sekitar.
Kepala Satuan Situasi Darurat Israel, Avi Aptelboim mengatakan roket itu jatuh di sebuah pabrik pengemasan dan hanya menyebabkan kerusakan, tidak ada korban jiwa.
"Kami terbangun dan menyaksikan realitas yang sama, yang kami jalani selama bertahun-tahun. Tapi kehidupan harus terus berlanjut. Ini cuma salah satu roket, dan saya kira akan ada roket-roket lainnya," kata Danny Yagal, salah seorang pekerja di pabrik pengemasan.
Ia menambahkan, pabrik ditutup sementara sampai kerusakan diperbaiki. Sementara warga yang tinggal di pemukiman dekat pabrik langsung berkumpul dan menggelar doa bersama di sebuah sinagog karena tidak ada yang menjadi korban roket tersebut.

Anggota Serikat Pekerja Yordan Ditolak oleh Mesir Menuju Gaza

Otoritas Mesir menolak anggota serikat pekerja profesional dari Yordania menyeberangi perbatasan Gaza melalui Terminal Rafah.  Anggota serikat pekerja Yordania itu terpaksa harus tinggal empat hari di terminal namun akhirnya terpaksa harus kembali.
Anggota kemudian memutuskan untuk kembali ke Amman setelah semua upaya untuk meyakinkan pihak yang berwenang Mesir untuk memungkinkan mereka melalui perbatasan gagal.
Ahmad al-Armouty, kepala Asosiasi pekerja Profesional Yordania, mengatakan kepada Prance Press bahwa perundingan diadakan dengan kepemimpinan Mesir melalui Kedutaan Besar Yordania di Kairo, namun Mesir berkeras tidak mengizinkan mereka ke Gaza tanpa memberikan alasan apapun.
Al-Armouty menambahkan bahwa delegasi lainnya dari Arab dan negara Internasional diizinkan melewati perbatasan.

Relawan Komat, Wahdah Islamiyah, KNRP Tembus Gaza

Komite Umat (Komat) Palestina, yang merupakan organisasi kemanusian Peduli Palestina yang berpusat di Makassar ini, telah memberangkatkan dua Relawan ke Gaza Palestina, Yakni Wakil Sekjen Komat Ustadz Ikhwan Abd.Jalil, Lc dan Dr.Paisal Abdillah, bertolak dari Jakarta ke Mesir Ahad dini hari 27 Juni 2010, dan sudah tiba di Gaza Palestina Selasa Sore 29 Juni 2010 Sekitar pukul 5 Sore Waktu Makassar/pukul 12 Siang Waktu Palestina, setelah sebelumnya melewati kota Al Arish Provinsi Sinai Utara.
Kedua Relawan Komat ini tergabung dalam rombongan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina KNRP dipimpin oleh DR. Muqoddam Khalil. Rombongan KNRP yang terdiri dari konsorsium beberapa LSM antara lain BSMI, PKPU, Wahdah Islamiyah, Komat Palestina, Rumah Zakat Indonesia. Total yang ikut dalam rombongan KNRP sebanyak lima orang, salah satunya adalah Mahasiswa Mesir.

Penghargaan "World Family" 2010 Diberikan Pada Perdana Menteri Turki

World Family Organization memberikan penghargaan "2010 World Family Award" pada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Presiden World Family Organization Dr Deisi Kusztra pada perwakilan tetap Turki di PBB, Ertugrul Apakan di gedung PBB, Selasa (29/6).

Penghargaan "World Family" 2010 itu diberikan pada Erdogan karena Perdana Menteri Turki itu dinilai sangat penduli dengan persoalan-persoalan yang menyangkut keluarga dan kepemimpinan.